welcome


Kamis, 23 Agustus 2012

UNDUR-UNDUR DAN KEBERSIHAN



        
Mungkin anda sudah tidak asing lagi ketika melihat hewan yang berjalan mundur dan memiliki rumah  cerung yang berbentuk corong, yang bukan lain adalah undur-undur.
                Binatang yang tergabung dalam family Myrmeleontidae ini adalah larva yang ketika tumbuh dewasa nanti, akan menjadi serangga yang menyerupai capung dan dapat terbang.
            Tahukah anda bahwa sebenarnya binatang yang sering kita sebut undur-undur(antlion) memiliki kebiasaan yang semestinya dapat kita teladani.
            Antlion atau undur-undur sangat menjaga kebersihan, hal ini dapat kita lihat pada tempat tinggalnya yang hanya terdiri dari pasir yang lembut dan tidak ada kotoran sedikitpun di sana, ketika ada sesuatu yang masuk, dengan sigap undur-undur akan menggigit dan menariknya masuk ke dalam tanah.
            Akan tetapi jika ternyata yang ia tarik bukan seekor serangga atau semut yang menjadi mangsanya, undur-undur akan segera melontarkannya keluar, jika anda tidak percaya, anda bisa mencoba dengan memasukkan sesuatu yang keci lseperti potongan daun di dalam cerukannya.
            Sebenarnya Allah telah menyampaikan pesan tersirat dari seekor undur-undur untuk selalu menjaga kebersihan.
                Dan orang-orang yang selalu menjaga kebersihan termasuk orang-orang yang beriman, sebagaimana ungkapan yang sangat terkenal ini: 

اَلنّظَفَةُ مِنَ اْلاِيْمَانِ   
“kebersihan sebagian dari iman”
Dan sebagaimna yang telah di terang di dalam hadist:

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ                                                           

“sebagian itu bagian dari iman”(HR.Muslim)

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ فَنَظِّفُوا أُرَاهُ قَالَ

أَفْنِيَتَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ



                Artinya: “allah itu bersih dan menyukai kebersihan”.
                Kita sebagai umat muslim seharusnya  tahu tentang hal ini dan dapat mengamalkannya, coba kita memandang ke tempat tetangga negara kita berada, mereka mayoritas penduduknya berstatus non muslim, tetapi mereka dapat menjaga kebersihan tempat mereka berada, mengapa kita tidak?.
                                           

Rabu, 22 Agustus 2012

WE ARE STRONG



            Manusia bisa dikatakana sangat mengesankan ketika manusa itu berada pada fase balita, bagaimana tidak, seorang balita yang sedang belajar berjalan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berdiri, lalu karena keseimbangan belum di dapatkan, terjatuh menjadi resiko utama yang mereka hadapi.
            Walaupun telah berkali-kali terjatuh dan menangis, seorang balita akan terus berusaha bagaimana ia bisa berdiri dan mengulang-ngulangi usahanya tersebut.
            Dan setelah berhasil berdiri dengan seimbang, dia akan berjuang  untuk bisa berjalan dengan sepasang kaki yang ia miliki walupun jatuh bangun dan berkali-kali menangis, balita akan terus berjuang hingga ia bisa berjalan.
            Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali dihadapkan pada  kegagalan yang membuat kita putus asa dan menghentikan perjuangan kita, bukankah begitu?.
            Untuk meghilangkan keputus asaan itu kita perlu mengingat bahwa kita dulu prnah menjadi balita yang memiliki jiwa juang yang tinggi, super kuat dan pantang menyerah.
         




   Kegagalan bukanlah batas yang membatasi antara usaha kita dan kesuksesan, tetapi kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
            Kita harus terus melangkah dalam perjuangan kita, melalui rintangan yang ada dan kembali bangkit ketika kegagalan mendera walaupun kita akan tertatih-tatih, karena kita akan memeperolh buah usaha kita, sebagaimana yang dikatan oleh Johan Wolfgang Van Goethe:
                                                Gagasan yang berani adalah seperti pemain
                                                            Catur mengambil langkah
                                                Dia mungkin akan kalah, tapi mungkin juga dia
                                                            Memulai langkah kemenangan.




Sebuah pribahasaarab mengatakan: مَنْ جَدَّ وَ جَدَ          
Artinya: “barang siapa bersungguh – sungguh maka mendapatlah ia”.

MUDIK: Budaya dan Silaturahmi




asads report
Edior oleh : Asadulloh / Berita dalam Indonsia / Rabu 22 Agustus 2012
 
Bukan suatu hal yang asing ketika pantauan saya pada liburan kali ini melihat channel televisi dipenuhi dengan berita kendaraan bermotor yang memadati jalan- jalan, pelbagai alat transportasi umum penuh sesak, dan para penduduk di santero tanah air berbondong-bondong pulang ke tempat asal mereka.

Fenomena ini dikenal dengan nama mudik dan akan berlangsung setiap tahun ketika bulan romadhon tiba, dari data yang ada, tercatat peningkatan jumlah pemudik selalu terjadi setiap tahunnya, tahun ini terjadi peningkatan sebesar 5persen dimana sekitar 30 juta jiwa melakukan tradisi mudik.

Masyarakat Indonesia memang sangat antusias dengan momentum “pulang kampung”, hal ini memang telah berlangsung sejak zaman prasejarah, nenek moyang bangsa Indonesia yang memiliki ras Melanesia dan berasal dari Yunnan telah menyandang gelar pengembara ulung sejak dahulu kala, awalnya mereka mengembara untuk mencari sumber penghidupan, lalu ketika mereka telah menemukan tempat yang ideal, mereka akan menetap di sana, dan pada moment-momennt tertentu seperti pemujaan roh nenek moyang, akan menjadi suatu alasan mengapa mereka kembali ke tempat asal mereka.

Dan pada era kerajaan majapahit, kegiatan mudik menjadi tradisi besar yang di lakukan oleh warga kerajaan, begitupula dengan warga yang menempati wilayah kekuasaan majapahit seperti Malaysia, Thailand, Brunei, dll beramai-ramai mengunjungi tanah jawa yang saat itu menjadi pusat pemerintahan dan tujuan utama pemudik.
Pada saat islam masuk di indonesia, hari raya idul fitri yang oleh masyarakat muslim di anggap sebagai hari kembalinya setiap individu kepada fitrah, menjadi acuan masyarakat untuk melakukan mudik sebagai motif untuk bersilaturahmi terutama dengan sanak keluarga, sebagaimana Allah SWT berfirman:

“وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً”.
Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Serta berbuat baiklah kepada kedua orangtua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman, musafir dan hamba sahaya yang kalian miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri”. QS. An-Nisa’: 36.

“مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ؛ فَلْيَصِلْ رَحِمَه”
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir; hendaklah ia bersilaturrahim”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah.

Akan tetapi banyak problematika yang timbul ketika tradisi ini di lakukan oleh mayoritas penduduk yang ada di bumi pertiwi ini, misalnya saja meningkatnya kriminal dengan berbagai modus di tempat-tempat umum terutama di terminal dan meningkatnya jumlah kecelakaan yang ada di jalan raya.

Korlantas Polri mencatat dalam 3 hari terakhir pada 11, 12, dan 13 Agustus 2012 jumlah kecelakaan untuk sementara mencapai 989 kasus atau sudah 80% dari jumlah kasus kecelakaan sepanjang tahun lalu sebanyak 1.239 kasus, Berdasarkan data tersebut, dari 989 kecelakaan, menelan korban jiwa 173 orang, jumlahnya mendekati jumlah sepanjang tahun lalu dengan 203 orang meninggal dunia, adapun luka berat sebanyak 212 orang dan luka ringan 883 orang, sedangkan sepanjang tahun lalu luka berat mencapai 320 orang dan luka ringan 739 orang.

Instansi-instansi pemerintahan memang sudah merealisasikan fasilitas-fasilitas yang diharapkan dapat mewujudkan keamanan dan kenyamanan masyarakat dalam melakukan tradisi mudik, seperti posko-posko kesehatan dan pos keamanan, akan tetapi jika tidak dengan kesadaran kita bersama, moment yang hanya dapat kita temui setahun sekali ini tak akan terkondisikan dengan baik.

Kita dapat mengkondisikan moment ini dengan 4S yaitu: sadar keamanan, sadar kenyamanan, sadar keslamatan dan sadar akan hak orang lain, jika hal ini dapat kita amalkan bersama maka mudik dapat terkondisikan dengan baik.

Dengan ini, kita sebagai masyarakat yang berbudaya dan beragama, telah ikut serta membantu melestarikan budaya dan beramal membantu orang lain untuk mempererat tali silaturahmi dengan sanak keluarga, sebagaimana Allah SWT Berfirman

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَاب
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. al-Maidah: 2).